Apa Itu SLS dan Kenapa Banyak Orang Mulai Menghindarinya?
Ada satu bahan yang sering kamu temukan di sabun mandi, shampoo, pasta gigi, bahkan detergen. Namanya SLS (Sodium Lauryl Sulfate).
Secara fungsi, SLS memang jago banget: bikin busa melimpah, cepat mengangkat kotoran, dan kasih sensasi “bersih instan”. Itu juga alasan kenapa bahan ini dipakai luas di berbagai produk pembersih.
Tapi di balik fleksibilitas dan efektivitasnya, ada satu hal yang mulai bikin orang berhenti sejenak dan mikir ulang, terutama saat dipakai di kulit setiap hari.
Kulit kita bukan permukaan mati. Ada lapisan alami yang tugasnya menjaga kelembapan dan melindungi dari iritasi. Dan ketika satu bahan yang sama dipakai berulang-ulang, dengan cara kerja yang cukup kuat, efeknya nggak selalu terasa langsung, tapi bisa muncul pelan-pelan.
Lalu, kalau bahan ini cukup kuat untuk dipakai di banyak jenis produk pembersih, apakah cara kerjanya juga terlalu keras untuk rutinitas harian di kulit?
Di artikel ini, kita bakal bahas sebenarnya apa itu SLS, kenapa dulu jadi standar di banyak produk, dan kenapa sekarang mulai banyak orang mulai lebih selektif, terutama untuk produk yang dipakai setiap hari seperti body wash!
Apa Itu SLS?

Gambar bahan SLS (Sodium Lauryl Sulfate)
SLS adalah singkatan dari Sodium Lauryl Sulfate, salah satu jenis surfaktan yang sering digunakan di produk pembersih.
Fungsinya cukup sederhana: membantu mengangkat minyak, kotoran, dan residu dari permukaan kulit atau rambut. Cara kerjanya dengan memecah minyak supaya bisa bercampur dengan air dan mudah dibilas.
Itu sebabnya SLS sering dikaitkan dengan busa yang banyak. Semakin kuat kemampuannya mengikat minyak, biasanya semakin banyak busa yang dihasilkan.
Menariknya, bahan ini bisa berasal dari beberapa sumber. SLS bisa dibuat dari minyak kelapa, minyak sawit, atau turunan dari minyak bumi. Di industri, bahan ini dipilih karena stabil, mudah diproduksi dalam skala besar, dan hasilnya konsisten.
Kalau dilihat dari cara kerjanya, nggak heran SLS masih sering dipakai. Ini beberapa alasannya:
-
Efektif mengangkat minyak dan kotoran: Cara kerjanya cepat dan langsung terasa di kulit.
-
Menghasilkan busa yang melimpah: Busa sering diasosiasikan dengan rasa bersih, jadi lebih satisfying saat dipakai.
-
Formulasinya stabil dan mudah digunakan: Cocok dipakai di berbagai jenis produk, dari body wash sampai shampoo.
-
Biaya produksi lebih efisien: Lebih mudah diproduksi dalam skala besar dibanding beberapa alternatifnya.
-
Sudah lama jadi “kebiasaan” di industri: Banyak produk sejak dulu pakai SLS, jadi ekspektasi konsumen ikut terbentuk dari situ.
Kenapa SLS Dulu Populer, Tapi Sekarang Mulai Dipertanyakan?

Gambar bahan SLS (Sodium Lauryl Sulfate)
Perubahan ini bukan tiba-tiba. Ada pergeseran cara orang melihat produk pembersih, dari yang dulu fokus ke hasil instan, sekarang mulai melihat dampak jangka panjang:
-
Standar lama yang beranggapan bersih harus terasa sampai kesat. Dulu, rasa kesat setelah mandi dianggap bukti kalau kotoran sudah benar-benar hilang. Padahal, sensasi ini sering muncul karena minyak alami di kulit ikut terangkat.
-
SLS menjawab ekspektasi itu dengan sangat baik. Kemampuan SLS menghasilkan busa banyak dan mengangkat minyak dengan cepat bikin produk terasa langsung bekerja. Pengalaman ini konsisten, jadi mudah diterima dan terus dipakai di banyak produk.
-
Cara kerja yang terlalu instan mulai disadari efek sampingnya. Seiring waktu, mulai terasa ada yang kurang nyaman. Kulit terasa lebih kering, lebih sensitif, atau butuh waktu lebih lama untuk kembali terasa normal setelah mandi. Dari sini mulai muncul pertanyaan, apakah bersih harus selalu terasa seperti ini.
-
Muncul pemahaman baru tentang skin barrier. Kulit ternyata punya lapisan pelindung alami yang fungsinya menjaga kelembapan dan melindungi dari iritasi. Membersihkan kulit tidak lagi dilihat sebagai proses “menghilangkan semuanya”, tapi menjaga keseimbangan.
-
Edukasi soal ingredients jadi lebih terbuka. Informasi tentang kandungan produk sekarang lebih mudah diakses. Orang mulai mengenali istilah seperti sulfate, surfaktan, sampai fungsi masing-masing bahan. Pilihan jadi lebih sadar, bukan sekadar ikut kebiasaan.
-
Alternatif yang lebih gentle mulai banyak tersedia. Dulu pilihan terbatas, sekarang banyak produk yang tetap bisa membersihkan tanpa terasa terlalu keras di kulit. Ini membuka opsi baru dan perlahan mengubah ekspektasi soal pengalaman mandi.
Apa yang Terjadi pada Kulit Saat Terlalu Sering Terpapar SLS?
Efek SLS biasanya tidak terasa dalam satu kali pemakaian. Dampaknya lebih sering muncul setelah digunakan terus-menerus, apalagi kalau berasal dari beberapa produk sekaligus dalam satu hari:
1. Mengganggu Skin Barrier

Ilustrasi skin barrier dalam kulit
Skin barrier berfungsi menjaga keseimbangan kulit dengan menahan air di dalam dan melindungi dari faktor luar.
Penelitian yang dipublikasikan di PubMed menunjukkan, SLS bisa mengganggu fungsi barrier karena memengaruhi sel kulit dan struktur lapisan terluarnya. Saat barrier melemah, air lebih mudah keluar dari kulit dan iritan dari luar lebih mudah masuk. Kondisi ini membuat kulit lebih rentan kering dan lebih mudah bereaksi terhadap lingkungan sekitar.
2. Menurunkan Natural Moisturizing Factor (NMF)
Natural Moisturizing Factor atau NMF berperan menjaga kadar air di lapisan terluar kulit.
Dalam jurnal dermatologi, paparan SLS dapat menurunkan kadar NMF di stratum corneum secara signifikan. Penurunan ini terjadi karena SLS dapat merusak struktur protein di lapisan kulit, sehingga komponen NMF lebih mudah “keluar” dari sel kulit.
Efeknya bukan cuma terasa kering di permukaan. Kulit juga jadi lebih sulit mempertahankan kelembapan dalam jangka waktu lebih lama.
3. Meningkatkan Transepidermal Water Loss (TEWL)
TEWL digunakan untuk melihat seberapa banyak air yang menguap dari kulit.
Penelitian yang dipublikasikan melalui ScienceDirect menyatakan, paparan SLS dapat meningkatkan TEWL secara signifikan. Peningkatan ini membuat air di dalam kulit lebih cepat hilang. Dampaknya terasa sebagai kulit yang lebih kencang, kurang elastis, dan lebih mudah kering setelah mandi.
4. Penggunaan Berulang Bisa Menyebabkan Iritasi Kumulatif

Tangan seseorang sedang mengalami kemerahan karena iritasi
Paparan SLS sering terjadi dari berbagai produk sekaligus, seperti body wash, shampoo, dan sabun cuci tangan.
Penelitian yang tersedia di National Center for Biotechnology Information mengungkapkan, penggunaan berulang dapat memicu iritasi kumulatif. Efeknya tidak selalu langsung terlihat. Awalnya ringan, tapi karena terjadi terus-menerus, kulit tidak memiliki waktu cukup untuk pulih dan akhirnya menjadi lebih sensitif.
5. Merusak Lipid Barrier
Lipid barrier terdiri dari lemak alami yang menjaga struktur kulit tetap utuh dan membantu mempertahankan kelembapan.
National Institutes of Health memaparkan, SLS dapat mengganggu susunan lipid di lapisan terluar kulit.
Ketika struktur ini terganggu, kemampuan kulit untuk mempertahankan kelembapan ikut menurun. Air lebih mudah menguap dan kulit menjadi lebih rentan terhadap kekeringan dan iritasi.
SLS Biasanya Ada di Produk Apa Saja?

Gambar berbagai jenis produk yang bisa mengandung SLS
SLS banyak dipakai karena fungsinya sebagai pembersih cukup fleksibel. Dalam keseharian, paparan SLS bisa datang dari beberapa produk berikut:
-
Shampoo: Digunakan untuk membersihkan kulit kepala dan rambut dari minyak serta kotoran. Dipakai rutin, biasanya beberapa kali dalam seminggu.
-
Body wash: Dipakai hampir setiap hari dan langsung ke seluruh permukaan kulit, jadi kontribusi paparannya cukup besar.
-
Face wash: Digunakan di area wajah yang lebih sensitif. Dipakai rutin, biasanya pagi dan malam.
-
Pasta gigi: Dipakai minimal dua kali sehari. Menghasilkan busa saat menyikat gigi dan langsung kontak dengan area mulut.
-
Sabun cuci tangan: Frekuensi pemakaian tinggi dalam sehari, terutama setelah aktivitas tertentu.
-
Detergen dan produk pembersih rumah: Digunakan untuk membersihkan pakaian dan permukaan. Tidak selalu kontak langsung, tapi residunya bisa tetap bersentuhan dengan kulit.
Karena Dipakai Tiap Hari, Body Wash Jadi Salah Satu yang Paling Perlu Diperhatikan
Body wash termasuk produk yang paling sering kena kulit, dan area yang terkena juga luas.
Dipakai hampir setiap hari, kadang lebih dari sekali. Durasi kontaknya juga lebih lama dibanding sabun tangan atau produk lain yang cepat dibilas. Kalau formulanya terlalu keras, efeknya nggak berhenti di satu kali pemakaian. Kulit terus-terusan kena hal yang sama, jadi perubahan kecil bisa terasa makin jelas seiring waktu.
Makanya, body wash jadi salah satu produk yang paling masuk akal untuk mulai diperhatikan komposisinya.
Apa yang Perlu Dicek Saat Memilih Body Wash?

Luxury Body Wash dari Body of Humans varian O
Pilihan body wash sering berangkat dari aroma atau sensasi saat dipakai. Padahal, yang lebih terasa dampaknya justru kondisi kulit setelah dipakai berulang kali.
Beberapa hal ini bisa jadi kamu jadikan acuan:
-
Terasa nyaman di kulit setelah mandi: Perhatikan kondisi kulit beberapa menit setelah dibilas. Kulit yang terasa terlalu kesat, kencang, atau seperti ketarik biasanya menandakan kelembapan alaminya ikut terangkat.
-
Tidak memicu perubahan kondisi kulit setelah pemakaian rutin: Efek body wash sering baru terasa setelah dipakai beberapa kali. Kulit yang mulai lebih kering, gampang gatal, atau terasa lebih sensitif bisa jadi tanda formulanya terlalu keras untuk penggunaan harian.
-
Kandungan yang membantu menjaga kelembapan: Beberapa bahan membantu mempertahankan hidrasi selama proses mandi, jadi kulit tidak kehilangan terlalu banyak air. Ini penting karena mandi adalah aktivitas yang dilakukan setiap hari.
-
Jenis surfaktan yang digunakan: Surfaktan menentukan cara produk membersihkan. Ada yang bekerja lebih agresif, ada yang lebih gentle. Untuk penggunaan rutin, surfaktan yang lebih mild biasanya terasa lebih stabil di kulit.
-
Aroma yang terasa nyaman, bukan berlebihan: Aroma ikut membentuk pengalaman mandi. Wangi yang terlalu tajam bisa terasa mengganggu, sementara aroma yang lebih seimbang biasanya membantu tubuh tetap rileks selama dan setelah mandi.
-
Efek jangka panjang di kulit: Body wash bukan produk sekali pakai, tapi dipakai terus-menerus. Kondisi kulit dalam jangka panjang jadi indikator yang lebih penting dibanding sensasi sesaat saat mandi.
Perkenalkan, Luxury Body Wash dari Body of Huamans dengan Formula SLS-Free

Luxury Body Wash dari Body of Humans semua varian
Cara orang melihat body wash sekarang mulai bergeser. Bukan cuma soal bersih, tapi juga bagaimana kulit terasa setelahnya.
Luxury Body Wash dari Body of Humans dikembangkan dengan pendekatan yang lebih dekat ke perawatan kulit sehari-hari. Fokusnya tetap membersihkan, tapi tanpa mengganggu keseimbangan alami kulit.
-
Diformulasikan Tanpa SLS dan SLES
SLS dan SLES dikenal sebagai surfaktan yang bekerja cepat dalam mengangkat minyak dan kotoran. Masalahnya, proses ini tidak selektif dan bisa ikut mengangkat minyak alami yang dibutuhkan kulit.
Luxury Body Wash tidak menggunakan kedua bahan ini.
Keputusan ini berpengaruh langsung ke cara produk berinteraksi dengan kulit. Proses membersihkan tetap berjalan, tapi tidak terlalu “menguras” lapisan pelindung alami.
Efeknya biasanya terasa setelah pemakaian rutin. Kulit tidak mudah terasa kering, dan kondisi alaminya lebih terjaga.
-
Menggunakan Surfaktan yang Lebih Mild
Sebagai pengganti, digunakan kombinasi surfaktan seperti Cocamidopropyl Betaine, Sodium Cocoyl Glycinate, dan Sodium Cocoamphoacetate.
Karakter surfaktan ini berbeda dari surfaktan berbasis sulfate. Proses pembersihannya tetap efektif, tapi lebih gradual dan tidak terlalu agresif dalam mengangkat minyak.
Perbedaan ini penting untuk penggunaan harian. Kulit tetap bersih dari kotoran dan residu, tapi tidak mengalami penurunan kelembapan secara drastis setelah mandi. Busa tetap terbentuk, tapi terasa lebih ringan dan tidak meninggalkan sensasi kesat yang berlebihan.
-
Hadir dalam Tiga Varian dengan Karakter Berbeda
Luxury Body Wash hadir dalam tiga varian dengan pendekatan aroma yang diambil dari fragrance HMNS, jadi profil wanginya terasa lebih terstruktur.
-
O: Lebih ringan dan fresh, dengan arah fruity yang terasa bersih di kulit. Cocok untuk penggunaan sehari-hari tanpa terasa terlalu berat.
-
Farhampton: Mengarah ke citrus dengan nuansa yang lebih hangat. Memberikan kesan yang lebih calm dan refined dibanding aroma sabun pada umumnya.
-
Darker Shade: Karakternya lebih dalam dan intens. Cocok untuk yang prefer aroma yang lebih terasa dan bertahan di kulit setelah mandi.
Setiap varian juga membawa ekstrak yang berbeda di dalam formulanya (raspberry, lemon, dan apple) yang berperan dalam menjaga kondisi kulit tetap segar dan ternutrisi.
-
Lebih Relevan untuk Body Wash Harian
Body wash termasuk produk dengan frekuensi penggunaan tinggi dan area aplikasi yang luas.
Dengan kondisi seperti ini, formulasi jadi faktor yang cukup menentukan. Produk dengan surfaktan yang terlalu kuat bisa memberi efek yang terasa berulang di kulit.
Luxury Body Wash dirancang untuk penggunaan rutin dengan tekanan yang lebih rendah ke skin barrier. Kulit tetap bersih, tapi tidak mengalami perubahan kondisi yang terlalu drastis dari hari ke hari.
Pendekatan ini membuat kondisi kulit terasa lebih stabil dalam jangka panjang, terutama untuk kulit yang cenderung kering atau sensitif.
Baca lebih lanjut tentang Luxury Body Wash dari Home of Humans, Apa yang Membuatnya Disebut Premium?
Bukan Cuma Soal Tanpa SLS, tapi Juga Soal Formulanya
Menghindari SLS memang jadi langkah awal. Tapi kondisi kulit setelah mandi ditentukan oleh keseluruhan formulanya, bukan satu bahan saja.
Luxury Body Wash dari Body of Humans mulai terasa di bagian ini:
1. Niacinamide Membantu Menjaga Skin Barrier
Niacinamide termasuk bahan yang cukup dikenal di skincare karena perannya dalam menjaga kondisi skin barrier.
Dalam body wash, fungsinya tetap relevan. Selama proses membersihkan, kulit tidak hanya kehilangan kotoran, tapi juga berpotensi kehilangan kelembapan. Kehadiran niacinamide membantu menjaga barrier tetap stabil, sehingga kulit tidak terasa mudah kering atau reaktif setelah mandi.
2. Hydrovance dan Vitamin E Membantu Menjaga Kelembapan
Dua kandungan ini berperan dalam menjaga hidrasi kulit.
Hydrovance bekerja membantu mempertahankan kadar air di kulit, sementara vitamin E berperan sebagai antioksidan sekaligus menjaga kelembapan. Efeknya terasa di hasil akhir. Kulit tetap bersih, tapi tidak terasa kaku atau cepat kering setelah dibilas.
3. Salicylic Acid, Piroctone Olamine, dan Witch Hazel Membantu Menjaga Kebersihan Kulit
Membersihkan kulit tidak hanya soal mengangkat kotoran di permukaan.
-
Salicylic acid membantu menjaga kebersihan pori, terutama dari penumpukan yang bisa menyebabkan kulit terasa kurang bersih.
-
Piroctone olamine berperan dalam menjaga keseimbangan mikroorganisme di kulit.
-
Witch hazel membantu menjaga kondisi pori tetap terkontrol dan memberikan efek segar.
Kombinasi ini membuat proses membersihkan terasa lebih menyeluruh, tanpa harus mengandalkan surfaktan yang terlalu kuat.
Saatnya Lebih Selektif dengan Apa yang Menyentuh Kulitmu Setiap Hari
Begitu mulai memahami cara kerja bahan seperti SLS, cara memilih produk biasanya ikut berubah. Fokusnya bukan lagi sekadar bersih di awal, tapi bagaimana kulit terasa beberapa jam setelah mandi, bahkan setelah dipakai terus-menerus.
Perubahan kecil di pilihan produk bisa berdampak cukup besar ke kondisi kulit dalam jangka panjang.
Kalau mulai mencari body wash yang terasa lebih nyaman dipakai setiap hari, formulasi yang lebih gentle bisa jadi pertimbangan awal. Luxury Body Wash dari Body of Humans dikembangkan dengan pendekatan seperti ini, membersihkan tanpa memberikan tekanan berlebihan ke kulit, sekaligus menjaga kondisinya tetap stabil.
Nggak perlu langsung mengganti semuanya. Mulai dari satu produk yang paling sering dipakai juga sudah cukup untuk melihat perbedaannya.
FAQ Seputar SLS dan Body Wash
1. Apakah SLS sama dengan SLES?
Tidak sama, tapi masih satu kelompok.
SLS dan SLES sama-sama surfaktan berbasis sulfate yang digunakan untuk membersihkan. Perbedaannya ada di proses pembuatannya. SLES melalui proses tambahan sehingga karakter pembersihnya sedikit lebih mild dibanding SLS.
Meski begitu, keduanya tetap bekerja dengan cara yang mirip, yaitu mengangkat minyak dan kotoran dari permukaan. Untuk kulit yang cenderung sensitif, keduanya masih bisa terasa cukup kuat jika dipakai terus-menerus.
2. Apakah busa yang banyak berarti sabun bekerja lebih baik?
Busa lebih ke pengalaman saat memakai, bukan indikator utama efektivitas.
Kemampuan membersihkan ditentukan oleh jenis surfaktan dan cara kerjanya, bukan seberapa banyak busa yang dihasilkan. Beberapa surfaktan yang lebih gentle tetap bisa membersihkan dengan baik meskipun busanya tidak terlalu melimpah.
Fokus yang lebih relevan biasanya ada di hasil akhir di kulit, bukan jumlah busa saat dipakai.
3. Apakah body wash tanpa SLS cocok untuk dipakai setiap hari?
Umumnya lebih cocok untuk penggunaan rutin.
Body wash tanpa SLS biasanya menggunakan surfaktan yang lebih mild, sehingga tekanan ke skin barrier lebih rendah. Ini membuatnya lebih nyaman dipakai setiap hari, terutama untuk kulit yang cenderung kering atau sensitif.
Hasilnya biasanya terasa lebih stabil. Kulit tetap bersih tanpa perubahan kondisi yang terlalu drastis setelah mandi.